Puisi 17 Agustus Terbaru 2018 “Pahlawan Tak Bernyawa”


Puisi 17 Agustus Terbaru Pahlawan Tak Bernyawa

Puisi 17 Agustus Terbaru 2018 “Pahlawan Tak Bernyawa”. Hari kemerdekaan sebuah bangsa mengandung arti sangat agung. Ia simbol lahirnya kebebasan dan menentukan nasibnya sendiri. Kemerdekaan adalah harga mahal sebuah negeri yang menuju ke sana sekian banyak harus dikorbankan.

Harta, nyawa, tanah air, dan harga diri menjadi taruhan mahal dalam membebaskan diri. Oleh karenanya bangsa Indonesia yang akan memperingati kemerdekaannya di tahun ini tidak sedikit memberikan sumbangsih rasa nasionalisme yang melekat dalam diri setiap diri demi kemajuan bangsa.

Indonesia untuk kesekian kalinya memperingati Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia tepatnya pada tanggal 17 Agustus tahun ini. Tidak lama kita akan merasakan dejavu perjuangan para pahlawan dengan segenap jiwa raga telah dipertaruhkan untuk satu kata “merdeka atau mati”. Merdeka dari segala bentuk penjajahan dan mati dalam keadaan mulia (syahid).

Puisi 17 Agustus terbaru sajian CaptionKata.com hanya salah satu bentuk semarak kebangsaan atas anugerah kemerdekaan yang terlah diberikan Alloh kepada bangsa Indonesia. Berikut ini silakan simak semangat dari puisi 17 Agustus terbaru karya Mas Is.

Puisi 17 Agustus Terbaru “Pahlawan Tak Bernyawa”

Berikut puisi terbaru 17 Agustus tahun ini dengan tema Pahlawan Tak Bernyawa.

Pahlawan Tak Bernyawa

oleh: Mas Is

 

Denyut nadi yang menempel

Bukti kuat masih adanya langkah perjuangan

Menuju kemerdekaan yang dicitakan

Wahai nyawa tetaplah padaku untuk bersama berjuang

 

Siang pun menerkam bak malam gelap gulita

Kampung-kampung menghitam oleh bom dahsyat pesawat

Anak-anak, para wanita, orang tua berceceran darah atas serangan itu

Para pejuang mempersiapkan diri melawan

 

Tak henti-hentinya kalimat takbir memekak telinga

Memecah takut menjadi energi kuat

Perlawanan hingga tetes darah penghabisan

Maju bergerak dan lawan kedholiman

 

Darah pun mengalir di sekujur tubuhku

Entah sudah berapa mili terpompa keluar

Baju ini menjadi saksi merahnya darah ini

Dan aku adalah penutur abadi perjuangan

 

Wahai nyawa tetaplah ada di jasadku

Perjuangan masih panjang

Wahai Tuhan kabulkan nyawaku ini masih ada padaku

Sampai kemerdekaan terpegang erat

 

Sudah berapa laga terayuh oleh tubuhku

Bambu runcing, senjata rampasan, dan doa tertajam

Menyertai tubuh ini dalam pertempuran

Dan akhirnya nyawaku terpisah dari jasadku

 

Tubuhku sendiri dalam genangan darah perjuangan

Nyawaku harus kembali kehadiran Rabb ku

Tidak saat ini aku menyaksikan kemerdekaan

Karena masih ada hari esok anak-anakku melanjutkannya

 

Wahai nyawaku berjalanlah menuju Tuhan dengan damai dan tenang

Wahai jasadku engkau bukti nyata akhir dari Pahlawan Tak Bernyawa

 

Mengingat perjuangan para pahlawan kemerdekaan tak pantas diri ini santai dan terlena dalam mempertahankan apa yang ada. Penulis pernah bersama simbah buyutnya dalam menceritakan keadaan bangsa Indonesia baik jaman pejajahan Belanda atau Jepang. Sangat memprihatinkan kondisi saat itu. Sang buyut adalah pelaku praktek kerja romusa dalam proyek jalan kereta api.

Baca Juga:

Benar rasanya bahwa kita tidak ada apa-apanya bila dibanding para pendahulu kita. Mereka dengan ikhlash berjuang sehingga anak cucu seperti kita hanya tahu keadaan merdeka hingga sekarang. Jangan pernah melupakan sejarah.

Semoga puisi 17 Agustus terbaru di atas mampu memberikan suntikan nasionalisme kita dalam kegiatan mengisi kemerdekaan. Sekali merdeka tetap merdeka.

Advertisements